Selasa, 31 Agustus 2010

rumput laut

PEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT (JENIS EUCHEUMA SP.)
MELALUI EKSPLORASI DI KEC. BUNGUS TELUK KABUNG
KOTA PADANG, PROVINSI SUMATERA BARAT


A. PENDAHULUAN

Rumput laut atau sea weeds atau algae adalah sejenis ganggang yang tumbuh dan tersebar di hamper seluruh perairan di Indonesia. Ia juga merupakan salah satu komoditas ekspor, disamping sebagai komoditas bagi pemenuhan permintaan dalam negeri yang akhir-akhir ini terus melonjak naik, seiring dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang berbagai manfaat dan khasiat yang dikandungnya. Penyebarannya sendiri di daerah-daerah di Indonesia, menunjukkan untuk beberapa jenis tertentu dapat tumbuh secara alami yang spesifik untuk masing-masing wilayah dan sebagiannya lagi tumbuh melalui usaha pembudidayaan yang cukup intensif tergantung dari kesesuaian lahan atau persyaratan ekologi dari masing-masing jenis (spesies).

Kecamatan Bungus Teluk Kabung adalah satu-satunya wilayah di dalam wilayah Kota Padang yang memiliki perairan lepas berikut pulau-pulau kecil di sekitarnya yang memang secara alami telah pula banyak ditumbuhi oleh rumput laut dari jenis Gelidium sp. dan sebagian dari jenis Eucheuma serra yang banyak mengandung agar-agar dan karagenan. Walaupun demikian, didapati kenyataan di lapangan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah ini masih saja menggantungkan hidupnya dari bermata pencaharian sebagai nelayan untuk menangkap ikan. Ironisnya, disamping banyak merusak terumbu-terumbu karang sebagai tempat/sarang hidup ikan yang merupakan salah satu ekosistem bahari yang perlu dijaga kelestariannya, hasil tangkapan ikannya pun belakangan sudah sangat jauh menurun. Hal itu disebabkan oleh tidak saja karena terjadinya perusakan terhadap terumbu-terumbu karang tersebut, melainkan juga akibat dari adanya pencemaran air laut dari beberapa industri besar yang terdapat disana yang banyak menghasilkan limbah buangan berupa unsur-unsur logam berat dan lain-lainnya. Oleh karena itu, upaya pengembangan budidaya rumput laut menjadi solusi yang baik untuk dikembangkan sebagai mata pencaharian alternative yang akan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan keadaan social ekonomi masyarakat secara luas.

Selain itu di Sumatera Barat sendiri khususnya di Padang, saat ini tengah berkembang dengan pesat usaha-usaha kecil yang menjadikan rumput laut sebagai bahan utama (‘Es Kreasi baru’) dan upaya-upaya dari pihak swasta untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan rumput laut ini sebagai alternative bagi pemenuhan diet keluarga dan untuk pemeliharaan dan perawatan kulit, baik secara langsung dikonsumsi maupun sebagai obat luar berupa bedak, disamping banyak manfaat lainnya. Dari semua itu, kebutuhan akan rumput laut yang dimaksud tersebut adalah yang berasal dari jenis Eucheuma sp. yang terpaksa masih didatangkan dari Pulau Jawa, Pulau Lombok dan daerah lainnya yang jauh.

Pengembangan budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp. yang banyak menghasilkan karagenan dan praktis banyak dipakai bagi usaha/industri minuman ringan, sampai saat ini belum pernah diteliti (dieksplorasi) dengan baik dan seksama melalui upaya pembudidayaannya dengan melibatkan langsung diantara tenaga ahli dan instansi yang berkompeten dan petaninya langsung di lokasi. Padahal apabila dicermati melalui referensi yang ada, pembudidayaan rumput laut jenis Eucheuma sp. ini adalah dimungkinkan juga dilakukan di perairan yang ada di Sumatera Barat ini dengan tetap memperhatikan kesesuaian dan persyaratan hidup secara alami yang dibutuhkannya, maupun dengan modifikasi lingkungan tempat hidupnya hingga dapat menghasilkan pertumbuhan yang optimal.

B. KANDUNGAN DAN MANFAAT

Dengan berjalannya waktu, pengetahuan tentang rumput laut dan kandungan zat yang ada didalamnya semakin hari semakin berkembang, dimana dahulunya rumput laut hanya dipakai untuk sayuran saja, maka kini telah digunakan secara luas untuk berbagai keperluan dalam industri minuman dan makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kulit, lem, cat dan lain-lain.

Rumput laut yang banyak dimanfaatkan umumnya adalah yang berasal dari kelas ganggang merah (Rhodophyceae) karena banyak mengandung agar-agar dan karagenan (termasuk jenis Eucheuma sp.), disamping mengandung pigmen fikobilin terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin yang merupakan cadangan makanan berupa karbohidrat (floridean starch).

Berikut adalah table kandungan unsur-unsur mikro pada ganggang merah (Rhodophyceae)

Unsur Kisaran Kandungan dalam % Berat Kering
Ganggang Merah
Klor 1,5 – 3,5
Kalium 1,0 – 2,2
Natrium 1,0 – 7,9
Magnesium 0,3 – 1,0
Belerang 0,5 – 1,8
Silikon 0,2 – 0,3
Fospor 0,2 – 0,3
Kalsium 0,4 – 1,5
Besi 0,1 – 0,15
Iodium 0,1 – 0,15
Brom 0,005
Sumber : Winarno, 1990

Selain itu, didapatkan juga beberapa manfaat dan khasiat lain dari rumput laut sebagai berikut :
- Mencegah kanker
- Mencegah stroke
- Mencegah diabetes
- Menurunkan hipertensi
- Menghancurkan lemak dalam tubuh
- Memperlancar program diet
- Menambah stamina tubuh
- Meningkatkan kekebalan tubuh
- Menguatkan jantung
- Memperlancar pencernaan
- Melembabkan dan menghaluskan kulit.

Sumber : Femina / Klub Diet Femina ; Dra. Emma S, Wirakusumah, M.Sc.

C. KLASIFIKASI, PENYEBARAN DAN EKOLOGI RUMPUT LAUT JENIS
EUCHEUMA SP.

Eucheuma sp. berasal dari kelas ganggang merah (Rhodophyceae) yang banyak mengandung mengandung karagenan dan kegunaannya hampir sama dengan agar-agar yang banyak dipakai untuk untuk konsumsi langsung maupun oleh industri-industri rumah tangga (home industry) maupun industri-industri besar lainnya.

Penyebaran alaminya terutama jenis Eucheuma cottoni dari data yang ada adalah terdapat di daerah seperti ; Bali, Maluku, Sulawesi Tengah, Selat Alas Sumba dan sebagian di Kepulauan Seribu. Sedangkan daerah potensial pengembangan budidayanya di Sumatera Barat sendiri adalah seluas 500 hektar yang mungkin tersebar di beberapa areal yang memiliki batas/daerah perairan yang berhadapan dengan laut, termasuk daerah Bungus Teluk Kabung yang potensial dan layak untuk dikembangkan upaya pembudidayaannya.

Ekologi bagi pertumbuhan rumput laut jelas memerlukan tempat tumbuh untuknya buat menempel agar tahan terhadap terpaan ombak, khususnya dari jenis Eucheuma sp. yang memerlukan dasar lokasi yang agak keras yang terbentuk dari pasir dan karang serta perlunya terdapat karang penghalang yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari kerusakan akibat ombak yang besar. Selain itu perlu diperhatikan juga agar tidak terjadi fluktuasi kadar garam (salinitas) yang besar dan pencemaran terutama unsur-unsur logam berat yang berasal dari industri dan rumah tangga yang akan dapat berakibat kepada kegagalan dari usaha yang hendak dikembangkan.

Rumput laut jenis Eucheuma sp. atau kelas Rhodophyceae umumnya hidup di daerah yang agak jauh dari pantai dan memerlukan cahaya matahari yang cukup untuk dapat melangsungkan fotosintesis yang bergantung dari kecerahan air laut serta memiliki kedalaman lokasi pada waktu surut yang masih tergenangi air sedalam 30-60 cm.

Suplai zat hara yang cukup terdapat pada air laut dipengaruhi oleh gerakan air (arus), disamping berguna untuk menjamin pertukaran CO2 dan O2 yang diperlukan oleh tanaman rumput laut. Gerakan air mengalir yang baik untuk pertumbuhan rumput laut ini adalah antara 20-40 cm/detik dan tinggi ombaknya tidak lebih dari 30 cm.

Sebaiknya temperature untuk pertumbuhan budidaya rumput laut adalah antara 20-28 0C dengan pH optimum antara 7,3 - 8,2. Selain itu, perairan yang dipilih untuk pembudidayaan rumput laut ini adalah sebaiknya yang juga ditumbuhi oleh komunitas jenis makro-algae lainnya, terutama jenis Caulerpa, Padina, sargassum, Turbinaria, Hypnea dan Gracilaria, tetapi perlu dihindarkan bagi pertumbuhan dari jenis Ulva dan Enteromorpha serta gangguan-gangguan dari predator seperti ; bulu babi, ikan-ikan herbivore dan penyu.

D. PEMILIHAN LOKASI DAN CARA PEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT
JENIS EUCHEUMA SP.

Pemilihan lokasi merupakan lamgkah pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha budidaya. Yaitu dengan memperhatikan berbagai pertimbangan-pertimbangan terutama mengenai ekologi dan teknik pembudidayaannya, disamping juga dari segi kesehatan, social ekonomi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pengembangan sector lainnya, seperti ; perikanan, pertanian, pelayaran, pariwisata, pertambangan, pengawetan dan perlindungan sumberdaya alam dan kegiatan alam lainnya.

Pada tahap awal, sebaiknya dilakukan uji kualitas air di laboratorium terutama untuk melihat tentang kandungan zat hara yang terdapat di air laut, besarnya kadar garam (salinitas) dan kandungan pH. Disamping itu perlu juga dilakukan penilaian kelayakan lokasi usaha dengan memperhatikan beberapa hal yang penting, seperti :
- Lokasi harus bebas dari pengaruh angina taupan
- Lokasi tidak mengalami fluktuasi salinitas yang besar
- Lokasi cukup mengandung makanan (hara) untuk tumbuhnya rumput laut
- Lokasi harus bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga
- Lokasi perairan harus berkondisi mudah untuk menerapkan suatu metode budidaya
- Lokasi harus mudah dijangkau sehingga biaya transportasinya tidak terlalu besar
- Lokasi harus dekat dengan sumber tenaga kerja.

Mengenai teknis pembudidayaan rumput laut jenis Eucheuma sp., yang pertama harus diperhatikan adalah dalam pengadaan dan pemilihan bibit yang baik, yaitu yang berasal dari dari hasil budidaya (murni) sehingga perlu didatangkan dari daerah yang lain. Bibit tanaman harus sehat, muda, bersih dan segar agar dapat memberikan pertumbuhan yang optimal. Sedangkan untuk pengembangan selanjutnya, bibit-bibit tersebut dapat diadakan melalui perkembang biakan / pembibitan secara vegetatif maupun generatif. Sebagai tambahan, untuk metode lepas dasar dengan luas tiap petakan budidaya sebesar 1 are (100 m2) dibutuhkan bibit sekitar 240 kg.

Metode lepas dasar adalah suatu metode penanaman/budidaya yang baik untuk jenis Eucheuma sp., dimana dengan luas petakan budidaya 10 x 10 cm2, dengan dasar perairan yang terdiri dari pasir bercampur pecahan karang dan kedalaman sewaktu surut antara 30 – 60 cm, maka akan dapat memberikan pertumbuhan antara 3 – 6 % per hari serta kandungan karagenan dan kekuatan gelnya lebih tinggi daripada metode budidaya lainnya. Selain itu, dapat juga diterapkan metode penanaman/budidaya lainnya berupa ‘rakit’ bagi lokasi dengan kedalaman waktu surut lebih dari 60 cm dan ‘tali gantung’ bagi perairan yang berkedalaman 5 meter dan dasarnya terdiri dari pasir atau pasir berlumpur.

Usaha pemeliharaan yang perlu dilakukan diantaranya adalah pembersihan kotoran atau debu air yang sering melekat pada tanaman, yaitu pada saat musim laut tenang dengan cara menggoyang-goyangkan tanaman didalam air agar selalu bersih dari kotoran yang melekat, sehingga proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman menjadi tidak terganggu. Selain itu perlu juga disingkirkan dengan cara dikumpulkan dan dibuang ke darat beberapa tumbuhan penempel pengganggu yang sering membelit tanaman dan konstruksi budidaya. Sedangkan terhadap gangguan dari predator bulu babi dapat diatasi dengan cara diusir dari lokasi budidaya dan terhadap predator ikan dan penyu dapat dengan dipasang jarring di sekililing lokasi budidaya.

Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman mencapai umur 6 – 8 minggu setelah tanam dengan berat ikatan sekitar 600 gram,baik pada saat laut pasang maupun surut. Perbandingan berat basah dan keringnya biasanya adalah 6 : 1, sedangkan apabila panen dilakukan pada usia satu bulan, perbandingan antara berat basah dan kering adalah berkisar 8 : 1. Biasanya dari satu unit usaha (100 m2) dengan metode lepas dasar akan diperoleh hasil panen sekitar 100 kg rumput laut kering setiap panen. Sedangkan apabila menggunakan metode rakit dengan luasan yang sama, maka akan diperoleh hasil panen sekitar 200 – 250 kg rumput laut kering setiap panen.

E. KESIMPULAN

Untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan tingkat social ekonomi masyarakat khususnya di Kecamatan Bungus Teluk Kabung dan umumnya di Provinsi Sumatera Barat, disamping sebagai suatu usaha yang komersial berupa peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), sangatlah baik untuk diupayakan pengembangan budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp. Hal tersebut akan dapat berhasil apabila dilakukan kerjasama diantara unsur-unsur yang terkait terdiri dari tenaga ahli, LSM, pihak swasta, instansi/lembaga yang berkompeten dan Pemda tingkat I dan II Provinsi Sumatera Barat serta juga melibatkan langsung petani atau masyarakat setempat, mencakup hal-hal sevagai berikut :

1. Pemilihan dan penilaian lokasi yang layak untuk usaha budidaya
2. Uji kualitas air, berupa penelitian kadar garam (salinitas), pH, kandungan zat hara dan kandungan unsur-unsur logam berat pencemar
3. Studi sosiologi dan peran serta aktif masyarakat didalamnya
4. Teknis penanaman / pembudidayaan yang cocok untuk jenis Eucheuma sp.
5. Usaha pemeliharaan yang perlu dilakukan
6. Cara pemanenan dan penanganan pasca panen yang memenuhi persyaratan (standar)
7. Pengembangan industri pengolahan hasil rumput laut
8. Distribusi dan pemasaran hasil yang baik
9. Dampak social ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

F. PENUTUP

Dari uraian di atas, diharapkan dapat terlaksananya follow up berupa kerjasama diantara pihak swasta, LSM, instansi terkait/berkompeten dan pihak Pemda tingkat I dan II Provinsi Sumatera Barat untuk diwujudkan dengan melaksanakan eksplorasi dan upaya pembudidayaan secara massal rumput laut jenis Eucheuma sp. yang komersial untuk pasaran dalam dan luar negeri. Semoga ini dapat menjadi pegangan kedepan untuk pengembangan potensi di daerah dan dapat pula memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat umum.

G. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979. Pedoman Budidaya Rumput Laut. Ditjenkan, Jakarta.

…….…, 1993. Pasca Panen Rumput Laut. Ditjenkan, Jakarta.

……………… Teknologi Penanganan dan Pengolahan Rumput Laut. Sub Balai
Penelitian Perikanan Laut, Slipi Jakarta.

Afrianto, E. dan Evi L. 1993. Budidaya Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.
Emma S, Dra. & Wirakusumah, M.Sc. ; Klub Diet Femina.

Hidayat, A. 1990. Budidaya Rumput Laut. Usaha Nasional Surabaya.

Laode. 1990. Budidaya Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nybakken, J.W.I. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Pustaka
Otoman.

Sulistijo dan W.S. Atmadja. 1975. Usaha Pemanfaatan Bibit Stek Algae Laut Eucheuma
Spinosum Lin di Pulau Seribu untuk Dibudidayakan. Oceanologi Nasional LIPI.
Jakarta.

Tim Penulis PS, 1999. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar
Swadaya. Jakarta. Cetakan 6.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar